Rabu, 11 Mei 2016

Koleksi 'Peter Finer'. I


Keindahan peralatan jaman dulu akan tetap bertahan apabila dirawat dengan baik dan benar, bahkan pada alat-alat perang yang digunakan untuk menyerang atau untuk bertahan,
senjata api maupun senjata tajam.
Contohnya terlihat pada gambar-gambar dalam buku katalog
'Peter Finer'.
Diatas gambar cover depan, terbit pada th.1995, ada 248 gambar full-color.

Peter Finer (tengah) bekerjasama dengan anak-anaknya, Redmond dan Roland membangun usaha pada th. 1967.
Mereka ahli bidang perlengkapan perang antik, dari abad perunggu sampai abad ke 19.


3 gambar atas adalah suasana salah satu sudut galeri Peter Finer.

 Saking banyaknya keindahan yang ditampilkan, maka akan diunggah beberapa kali, dikelompokan sesuai dengan jenisnya :

Powder flask, Rifle dan Sword-Knife

Armour, Box dan Pistol

Dibawah adalah gambar cover belakang.
Soft cover, 30.5 x 21 x 1.2 cm

Klik saja gambar-gambarnya agar lebih jelas.

Sabtu, 05 Maret 2016

Celadon


Buku yang diunggah ini terutama berisi illustrasi katalog pada 
'Pameran Celadon dan Barang yang terkait, di Asia Tenggara'.
Celadon umumnya adalah keramik yang berwarna hijau kebiruan.

Judul bukunya :
"Chinese Celadons and Other Related Wares In Southeast Asia"
Buku ini diterbitkan oleh 'Art Orientalis Singapore' pada th. 1979 bersamaan dengan saat pameran.

Buku berisi 294 gambar full colour. 
Dibawah ini ditampilkan sebagian kecil gambar-gambar yang ada dalam buku.
Gambar-gambar atas diperkirakan buatan abad 3 SM sampai 2 M.  

Vas kembang diatas diperkirakan dari abad 13 - 14 M.

Patung orang sedang duduk periode abad 14 - 15 M.

Gambar kiri, peralatan yang dibuat pada abad 14-15 M.
Gambar kanan peralatan dari Thailand.

Gambar kendi sebelah kiri dari abad 6 M, sedang kendi sebelah kanan dari abad 10 M.

Buku ini berukuran 22 x 29.5 x 2.8 cm, 311 halaman, hardcover, jacket, dicetak diatas kertas art paper.

Mohon maaf bila ada kekeliruan, kami memang bukan ahlinya.

Senin, 01 Februari 2016

KRETEK, sigaret khas Indonesia.


Gambar buku diatas itulah yang dikategorikan 'buku indah'.
Buku itu menampilkan sejarah dan budaya kretek dengan indah, baik gambar-gambarnya, 
maupun cara penyajiannya'
Kalau isi ceritanya sudah banyak yang menulis dibuku, media cetak dll.

Inilah deretan contoh rokok kretek, dari yang dilinting tangan sampai yang pakai mesin.

Gambar kiri, kretek dibuat dari 3 macam bahan, 
tembakau, cengkeh dan cairan rasa (sauce).
Gambar kanan, proses pecampuran ketiga bahan tersebut.

Gambar diatas menunjukan proses tradisional dan proses lebih maju.

Inilah 2 diantara para penikmat kretek.

 Menawari, menyilahkan mengambil sendiri rokok, selanjutnya menyiapkan api untuk menyalakan rokok tersebut. Itulah budaya, yang muda menghormati yang lebih tua,

Dibawah ini adalah dua diantara 'tokoh-tokoh' kretek.
 Kiri, Nitisemito, pedagang kretek pertama, menjadi 'konglomerat' pada jamannya, sayang tidak punya generasi penerus usahanya.
Kanan, Liem Seeng Tee dan keluarganya, pendiri HM. Sampurna. Sampai sekarang HM. Sampuna masih ada.


KRETEK
The Culture and Heritage of Indonesia's Clove Cigarettes.
Oleh : Mark Hanusz, diterbitkan oleh Equinox Publishing, th. 2000.
Cetak lux, hardcover + jacket, 203 + XIX halaman.

Selasa, 15 Desember 2015

History and Porcelain of Geldermalsen shipwerck.


 "The Geldermalsen, History and Porcelain"
Itu judul 'buku indah' yang diunggah kali ini. 
Buku ini adalah karya  'C.J.A. Jorg', salah seorang kurator Museum Groningen, diterbitkan oleh 'Kemper Publisher Groningen', pada th. 1986.
Buku ini menceritakan kapal Geldermasen, tenggelam (th. 1752) bersama muatannya, termasuk banyak sekali 'porselen' bikinan China.
Gambar atas kiri adalah cover depan dengan sedang gambar kanan adalah cover tanpa jacket.
Gambar bawah kiri adalah halaman judul, gambar kanan adalah daftar barang-barang yang terbawa tenggelam kapal Geldermalsen.

Gambar bawah adalah barang-barang yang terbawa tenggelam, diantaranya ada meriam, porselen bahkan ada emas batangan dari China. 

Dibawah adalah gambar yang sejenis dengan kapal Geldermalsen

Kapal Geldermalsen tenggelam karena nabrak karang pada 3 Januari 1752.

Dibawah adalah tampak depan buku.
Buku berukuran 21.5 x 28.5 cm, 123 hakaman, hardcover plus jacket.

Menariknya, buku ini ditandatangani langsung oleh penulisnya, Christiaan Jorg (gambar atas kiri). Sebagai pembanding, terlihat pada gambar kanan, tandatangan penulis tercetak pada akhir 'Pembuka' (preface).

Kamis, 26 November 2015

Benteng di Indonesia

Beruntung kita karena 'Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia' menerbitkan buku indah ini, berjudul 
"Forts in Indonesia"
Maksudnya tentu Benteng-benteng di Indonesia yang dibangun pada abad yang silam, yaitu dari abad XVI sampai Perang Dunia I, sehingga kita bisa menikmati keindahan benteng-benteng tersebut walaupun hanya gambarnya.
Gambarnya bagus, walaupun bentengnya sudah tua dan ada yang tidak terawat tapi masih tampak keindahannya. Silahkan menikmatinya.

Kalamata (1540) di Ternate

Marlborough (1714) di Bengkulu

Rotterdam (1673) di Makassar.

Amsterdam 1 (1636) di Ambon. 

Inong Balee (1599) di NAD (kiri) dan  Klingker (abad 19) di Cilacap (kanan).

Surasowan 1570-1580 di Banten (kiri) dan  Speelwijk 1684 di Banten (kanan).

Kuto Besak (1780) di Palembang (kiri) dan  Willem II (1755-1757) di Ungaran (kanan)

Design benteng Nassau (1660) di Bandaneira.

Gambar kiri bawah adalah cover belakang, terdapat gambar indah benteng Marlborough (Bengkulu), Buton (Sulawesi), Amsterdam (Maluku), Belgica (Maluku), Vredeburg (Jawa) dan Otanaha (Sulawesi).
Sedang gambar atas kanan adalah cover depan ada lukisan pelabuhan Batavia dengan latar belakang gunung Gede dan Pangrango, dilukis oleh H.J. Dubbels koleksi Rijksmuseum.

 Dicetak lux, hard cover ditambah jacket, 24.5 x 24.5 x 3 cm, 328 halaman, buku indah ini memuat lebih dari seratusan gambar indah.